Tugas LKMMTD Bu Imamatul

Nama: Noer Aisyah Wiyantikasari

Asal kelompok: 17 Plantaris


Identifikasi masalah beserta cara mengatasinya: Stress karena tugas menumpuk


Stress seringkali jadi suatu masalah bagi mahasiswa, termasuk saya, apalagi jika hal tersebut diakibatkan oleh tugas yang menumpuk. Setelah saya mencari tahu, stres sendiri adalah respons alami tubuh terhadap tuntutan atau ancaman. Dalam konteks kehidupan modern, khususnya bagi pelajar, tekanan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk seringkali menjadi pemicu utama stres. Fenomena ini ternyata dikenal dengan academic burnout atau kelelahan akademik, dan itu bukan sekadar perasaan lelah biasa, tapi kondisi serius yang dapat mengganggu kesehatan fisik maupun mental seseorang, mengurangi produktivitas, dan juga merusak kualitas hidup. Ketika seseorang dihadapkan pada daftar tugas yang seolah tak berujung, mulai dari laporan, esai, presentasi, hingga persiapan ujian, pikiran dan tubuh masuk ke mode pertahanan, yang sering kali justru melumpuhkan kemampuan untuk bertindak. Tugas yang tadinya hanya menjadi kewajiban, kini malah menjadi ancaman psikologis. Oleh karena itu, mari kita memahami akar penyebab dari tekanan tersebut dan mengimplementasikan strategi penanggulangan yang efektif.


Identifikasi Mendalam Terhadap Akar Penyebab Stres Tugas Menumpuk

Stres yang ditimbulkan oleh tugas yang menumpuk adalah hasil dari interaksi kompleks antara faktor internal dan eksternal. Untuk mengatasinya secara efektif, kita harus terlebih dahulu mengidentifikasi dengan tepat apa saja yang menjadi pemicunya.

1. Manajemen Waktu yang Kurang Efektif

Penyebab utama dari penumpukan tugas hampir selalu berakar pada prokrastinasi atau kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Prokrastinasi seringkali bukan karena kemalasan, melainkan karena ketakutan akan kegagalan atau perfeksionisme yang berlebihan, yang membuat seseorang enggan memulai tugas yang dirasa terlalu besar atau sulit. Alih-alih memecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil, individu yang menunda-nunda cenderung menghindarinya hingga tenggat waktu sudah sangat dekat. Hal ini diperparah oleh ketidakmampuan memprioritaskan tugas. Ketika dihadapkan pada banyak tugas, tanpa adanya kerangka kerja seperti Matriks Eisenhower (Penting/Mendesak), semua tugas terlihat sama mendesaknya. Akibatnya, energi terbuang untuk tugas-tugas yang sebenarnya kurang penting, sementara tugas-tugas besar yang memiliki dampak signifikan justru terabaikan dan menumpuk. Kurangnya alokasi waktu yang realistis untuk setiap tugas juga menambah beban; seringkali orang meremehkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu proyek, sehingga jadwal yang disusun menjadi tidak realistis dan cepat berantakan.

2. Perfeksionisme yang Tidak Sehat

Banyak individu yang mengalami stres akibat tugas menumpuk adalah mereka yang memiliki kecenderungan perfeksionisme disfungsional. Mereka menetapkan standar kesempurnaan yang hampir mustahil untuk dicapai pada setiap tugas. Pola pikir "Jika saya tidak bisa melakukannya dengan sempurna, lebih baik tidak usah dilakukan sama dahulu" seringkali menjadi penghalang terbesar untuk memulai. Proses peninjauan dan revisi yang berlebihan untuk mencapai 'kesempurnaan' ini memakan waktu yang sangat banyak, sehingga sisa waktu untuk tugas lain menjadi berkurang, dan tugas-tugas berikutnya pun terpaksa ditunda atau dikerjakan terburu-buru. Perfeksionisme ini juga seringkali terkait dengan validasi diri—nilai diri seseorang diukur berdasarkan kualitas hasil kerjanya. Jika hasil kerja tidak sempurna, mereka merasa sebagai pribadi yang gagal, menciptakan siklus kecemasan yang mendalam.

3. Kurangnya Batasan Jelas dan Kelebihan Beban

Penyebab eksternal dan internal lainnya adalah kecenderungan untuk overcommit atau mengambil terlalu banyak tanggung jawab. Hal ini bisa terjadi karena ketidakmampuan untuk mengatakan "tidak" kepada atasan, dosen, atau rekan kerja, didorong oleh keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain (people-pleasing) atau takut dianggap tidak kompeten. Ditambah lagi, di era digital, batasan antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi kabur. Seseorang mungkin terus-menerus memantau email atau pesan terkait pekerjaan di luar jam kerja, yang mencegah otak untuk benar-benar beristirahat. Akibatnya, kapasitas mental dan energi fisik terkuras habis, membuat tugas-tugas yang tersisa terasa jauh lebih berat dan menakutkan, sehingga peluang tugas tersebut menumpuk menjadi sangat tinggi. Kombinasi dari ketiga faktor ini—manajemen waktu yang buruk, standar perfeksionisme yang kaku, dan overcommitment—menciptakan lingkungan yang sempurna bagi stres tugas menumpuk untuk berkembang biak.


Solusi untuk Mengatasi Stres Tugas Menumpuk Versi Saya

1. Membuat Struktur dan Memprioritaskan Tugas

Membuat daftar tugas lengkap untuk memindahkan beban dari kepala ke kertas atau aplikasi. Setelah itu, jangan kerjakan berdasarkan urutan daftar, tapi urutkan berdasarkan dua faktor: kedekatan deadline dan tingkat kepentingan/dampak tugas tersebut. Fokus pada tugas-tugas yang paling penting dan memiliki tenggat waktu terdekat. Dengan membuat peta jalan prioritas yang jelas, hal itu dapat menghilangkan kebingungan tentang "harus mulai dari mana", sehingga dapat beralih cepat dari rasa panik ke mode eksekusi yang terarah.

2. Kurangi Distraksi Digital

Untuk memastikan waktu kerja saya benar-benar produktif dan tidak terbuang, saya HARUS mengurangi gangguan, terutama dari perangkat digital. Saat saya sedang mengerjakan tugas yang penting, saya biasanya mengaktifkan Mode Do not disturb, lalu matikan semua notifikasi media sosial, dan meletakkan ponsel jauh dari jangkauan mata dan tangan. Karena gangguan sesaat dapat merusak alur kerja dan memperpanjang waktu penyelesaian tugas secara keseluruhan.

3. Menerapkan Sistem Self-Reward

Disiplin tanpa motivasi akan cepat habis. Oleh karena itu, saya menetapkan hadiah (reward) untuk diri sendiri setelah saya berhasil menyelesaikan tugas yang. Hadiah ini bisa berupa istirahat pendek, waktu bebas, atau makanan kesukaan. Pemberian reward segera setelah penyelesaian tugas ternyata berfungsi sebagai penguatan positif, hal itu dapat melatih otak untuk mengasosiasikan kerja keras dengan hasil yang menyenangkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUME Unusa Ambil Sumpah 136 PPG Prajab

Hasil resume PKKMB prodi

Hasil resume hari ke-1